MALUNDA — UPTD Puskesmas Malunda menggelar Forum Konsultasi Publik sebagai ruang terbuka untuk mendengar langsung aspirasi, kritik, serta keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan di wilayah Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Rabu, (2/9/2026)
Forum tersebut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majene Yuliani, Kepala UPTD Puskesmas Malunda Irwan, Camat Malunda, Kapolsek, Danramil, para kepala desa, jajaran tenaga kesehatan, lembaga masyarakat, akademisi serta tokoh masyarakat.
Pertemuan berlangsung dinamis. Sejumlah kepala desa dan peserta forum memberikan apresiasi terhadap pelayanan Puskesmas Malunda yang selama ini dinilai cukup baik. Namun, apresiasi tersebut juga disertai sejumlah catatan yang dianggap perlu segera mendapat perhatian pemerintah.
Beberapa persoalan yang mencuat di antaranya keterbatasan sarana dan prasarana, ketersediaan air, kekurangan tenaga dokter gigi hingga kebutuhan tambahan armada ambulans.
Pelayanan Diapresiasi, Tetapi Kekurangan Tidak DitutupiPara kepala desa yang hadir menilai Puskesmas Malunda telah berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, sejumlah keterbatasan di lapangan masih menjadi hambatan dalam memaksimalkan pelayanan.
“Kami mengapresiasi pelayanan Puskesmas yang selama ini sudah berjalan. Tetapi masih ada beberapa kebutuhan yang harus menjadi perhatian bersama, terutama sarana dan prasarana serta tenaga kesehatan,” menjadi salah satu poin yang mengemuka dalam forum.

Masukan tersebut dinilai penting karena Puskesmas merupakan salah satu fasilitas kesehatan utama yang menjadi tumpuan masyarakat Malunda dan desa-desa di sekitarnya.
Musim Kemarau, Persoalan Air Kembali Mengemuka Salah satu persoalan yang cukup mendapat perhatian adalah ketersediaan air.
Kepala UPTD Puskesmas Malunda, Irwan, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah melakukan upaya dengan menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air di lingkungan Puskesmas.
Namun, upaya tersebut kini menghadapi kendala karena wilayah Malunda tengah memasuki musim kemarau.
“Kami sudah berupaya dengan menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air di Puskesmas. Tetapi sekarang sudah masuk musim kemarau, sehingga ketersediaan air kembali menjadi persoalan,” ujar Irwan.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius karena musim kemarau turut berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Majene telah mengambil langkah menghadapi kondisi kekeringan melalui status siaga/tanggap darurat yang berkaitan dengan dampak musim kemarau.
Di tengah kondisi tersebut, Puskesmas Malunda harus mengambil langkah sementara agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
“Solusi yang kami lakukan sementara adalah menyediakan atau mendatangkan air untuk memenuhi kebutuhan yang ada di Puskesmas Malunda. Pelayanan tetap harus berjalan, sehingga kebutuhan air harus tetap dipenuhi,” jelas Irwan.
Menurutnya, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa dipisahkan dari operasional Puskesmas, baik untuk pelayanan pasien, kebersihan, sanitasi maupun kebutuhan sehari-hari tenaga kesehatan.
Karena itu, persoalan air diharapkan tidak hanya diselesaikan dengan solusi sementara. Dibutuhkan langkah permanen agar Puskesmas tidak kembali menghadapi persoalan serupa setiap musim kemarau.
Selain air, keterbatasan tenaga dokter gigi juga menjadi salah satu persoalan yang disampaikan dalam forum. Kebutuhan tenaga medis tersebut dianggap penting karena pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menyangkut pemeriksaan umum, tetapi juga pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Begitu pula dengan kebutuhan armada ambulans. Dengan wilayah pelayanan yang cukup luas, tambahan ambulans dinilai penting untuk mendukung pelayanan maupun proses rujukan pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Yuliani, menyatakan pihaknya akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan dalam forum tersebut dan mencari solusi sesuai kewenangan serta kemampuan pemerintah daerah.

“Apa yang disampaikan masyarakat dan pemerintah desa menjadi bahan evaluasi bagi kami. Kalau ada kekurangan, tentu harus kita carikan solusinya. Tidak boleh persoalan pelayanan hanya dibicarakan, tetapi harus ada tindak lanjut,” tegas Yuliani.
Terkait kebutuhan ambulans, tenaga kesehatan dan sarana-prasarana, Dinas Kesehatan akan melakukan koordinasi untuk menentukan kebutuhan yang menjadi prioritas.
“Kita akan melihat satu per satu kebutuhan yang ada, termasuk ambulans, tenaga kesehatan dan sarana-prasarana. Kita akan mencari solusi agar pelayanan di Puskesmas Malunda bisa semakin maksimal,” katanya.
Dalam forum tersebut, Yuliani juga menyampaikan perkembangan terkait Rumah Sakit Pratama yang berada di wilayah Salutambung.
Keberadaan rumah sakit tersebut diharapkan dapat menjadi solusi terhadap persoalan rujukan pasien dari wilayah Malunda dan sekitarnya.
Selama ini, pasien yang membutuhkan pelayanan lebih lanjut harus dirujuk ke fasilitas kesehatan di Majene maupun Mamuju. Jarak yang cukup jauh tentu menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera.
“Kita berharap Rumah Sakit Pratama segera diresmikan dan dapat beroperasi secara resmi tahun ini. Dengan begitu, masyarakat Malunda dan wilayah sekitarnya memiliki pilihan fasilitas rujukan yang lebih dekat,” ujar Yuliani
Forum Konsultasi Publik tersebut pada akhirnya menjadi ruang untuk membuka berbagai persoalan pelayanan kesehatan secara langsung di hadapan pemerintah dan masyarakat.
Kepala Puskesmas Malunda, Irwan, menegaskan bahwa setiap kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi bagi pihaknya.
“Kami menerima semua masukan yang disampaikan. Ini menjadi evaluasi bagi kami untuk memperbaiki pelayanan. Apa yang bisa kami selesaikan di tingkat Puskesmas akan kami maksimalkan, sedangkan yang membutuhkan dukungan Dinas Kesehatan akan kami koordinasikan,” ungkapnya.
Sementara itu, kehadiran Kepala Dinas Kesehatan dalam forum tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk mendengar langsung persoalan yang terjadi di tingkat pelayanan paling bawah.

BERITA TANPA BATAS


Tinggalkan Balasan