Turnamen Domino Bhayangkara Tuai Sorotan, Warga Pertanyakan Pilihan Kegiatan Polda Sulbar

Pelaksanaan Turnamen Domino Bhayangkara dalam rangka peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang dibuka Kapolda Sulawesi Barat menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sabtu, (20/6/2026).

‎Kembali, permainan domino menjadi perhatian publik dalam kegiatan yang melibatkan institusi kepolisian . Bahkan, di tengah tingginya antusiasme peserta yang mencapai lebih dari seribu orang, beredar informasi bahwa kuota peserta ke depan akan diperluas hingga ribuan peserta lagi.

‎Di tengah tingginya partisipasi masyarakat, sebagian warga justru mempertanyakan alasan dipilihnya permainan domino sebagai salah satu kegiatan unggulan dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara.

‎Menurut mereka, masih banyak cabang olahraga maupun kegiatan sosial lainnya yang dapat dijadikan sarana mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat tanpa menimbulkan perdebatan di ruang publik.

‎Menurut sejumlah warga, domino memang dapat dimainkan sebagai permainan strategi dan hiburan. Namun di sisi lain, permainan tersebut masih kerap diasosiasikan dengan praktik perjudian oleh sebagian masyarakat. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan berbagai tanggapan, baik di media sosial maupun grup-grup percakapan masyarakat.

‎”Yang menjadi pertanyaan bukan soal silaturahminya, tetapi kenapa harus domino? Masih banyak cabang olahraga atau kegiatan lain yang bisa dipilih untuk mempererat hubungan masyarakat dengan kepolisian,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

‎Sebagian masyarakat menilai bahwa pemilihan domino sebagai kegiatan berskala besar berpotensi menimbulkan persepsi yang beragam di tengah masyarakat. Apalagi selama ini aparat kepolisian juga aktif melakukan penindakan terhadap berbagai bentuk perjudian. Meski permainan domino dan perjudian merupakan dua hal yang berbeda, sebagian masyarakat menganggap keduanya masih memiliki keterkaitan secara persepsi sosial.

‎”Kritik yang muncul bukan karena masyarakat anti terhadap permainan domino. Yang dipertanyakan adalah pesan apa yang ingin disampaikan kepada publik ketika permainan yang selama ini masih memiliki stigma tertentu justru dijadikan kegiatan yang begitu menonjol dan berulang kali mendapat ruang besar dalam agenda publik,” ujar salah satu tokoh masyarakat.

‎Beberapa pihak menilai kegiatan seperti sepak bola, bola voli, bulu tangkis, Catur, atletik, jalan sehat, bakti sosial, donor darah, maupun lomba kreativitas pemuda dapat menjadi alternatif yang lebih edukatif dan minim polemik. Menurut mereka, pemilihan jenis kegiatan publik perlu mempertimbangkan bukan hanya aspek partisipasi, tetapi juga persepsi yang berkembang di tengah masyarakat.

‎Meski demikian, terdapat pula masyarakat yang berpandangan bahwa domino merupakan permainan tradisional yang sah dan berbeda dengan perjudian selama tidak disertai taruhan. Karena itu, perdebatan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan sudut pandang dan persepsi publik terhadap permainan tersebut.

‎Hingga kini sabtu 20 Juni 2026, turnamen tetap berlangsung dengan diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah. Namun polemik yang berkembang menunjukkan bahwa setiap kegiatan publik yang digelar institusi negara akan selalu menjadi perhatian masyarakat, terlebih ketika kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan tafsir yang berbeda di tengah publik.

‎”Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menghadirkan ruang diskusi dan evaluasi di tengah masyarakat.”

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya memperoleh tanggapan resmi dari pihak Polda Sulawesi Barat.**

PEMBERITAAN TANPA BATAS



Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *