Pemda dan DPRD Diam di Tengah Kelangkaan BBM Subsidi, Rakyat Terus Dipaksa Mengantre

MAJENE — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Majene hingga kini masih menjadi keluhan serius masyarakat. Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU bahkan telah menjadi pemandangan yang nyaris setiap hari. Bahkan kelangkaan BBM subsidi dik di kecamatan malunda harga enceran mencapai 15.000 per liter. Minggu (6/9/2026)


Respons lembaga eksekutif dan legislatif terhadap persoalan tersebut justru dinilai publik masih jauh dari harapan. Berbagai keluhan masyarakat yang bermunculan di media sosial seolah belum mendapatkan jawaban dan langkah konkret. Respons terhadap persoalan kelangkaan BBM bahkan terkesan seperti mencari jarum di tengah tumpukan jerami.


Padahal, BBM merupakan kebutuhan penting dalam menunjang aktivitas masyarakat. Ada nelayan yang membutuhkan BBM untuk melaut, petani untuk menggarap sawah, pekebun untuk menjalankan aktivitas di kebun, hingga pelaku usaha dan transportasi yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada ketersediaan bahan bakar.


Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre, bahkan berisiko pulang tanpa mendapatkan BBM, persoalannya tidak lagi sekadar antrean di SPBU. Dampaknya sudah menyentuh aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.


Sebagai masyarakat yang turut terdampak, tentu harapan besar diarahkan kepada seluruh unsur pemerintahan daerah, baik eksekutif maupun legislatif, agar bahu-membahu mencari solusi nyata.


Rakyat tidak membutuhkan sekadar pernyataan. Rakyat membutuhkan tindakan. Pemda diharapkan melakukan koordinasi dan langkah konkret bersama pihak terkait, sementara DPRD memiliki fungsi pengawasan yang dapat digunakan untuk memanggil pihak-pihak terkait, turun langsung ke lapangan, dan mencari solusi atas persoalan distribusi BBM yang dikeluhkan masyarakat.


Jika antrean terus mengular dan keluhan masyarakat semakin meluas, maka wajar apabila publik mempertanyakan sejauh mana kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tersebut.


Dikutip dari Teras Sulbar Dalam pemberitaan Teras Sulbar berjudul “Pemda dan DPRD Bungkam Melihat Masyarakat Antre BBM”, kondisi antrean kendaraan di sejumlah SPBU Kabupaten Majene disoroti sebagai persoalan yang telah memicu keresahan masyarakat.
Pemberitaan tersebut juga memuat kritik dari tokoh pemuda Majene, Ahmad Rusli, yang mempertanyakan sikap Pemda dan DPRD di tengah masyarakat yang harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM.


Menurutnya, fungsi pengawasan DPRD dan kewenangan eksekutif pemerintah daerah semestinya diuji ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan seperti kelangkaan BBM.


Ia juga mendorong adanya langkah konkret, seperti pemeriksaan langsung ke lapangan, operasi pasar, maupun pemanggilan pihak-pihak terkait melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP), guna mencari akar persoalan dan solusi atas kelangkaan BBM.


Suara Masyarakat Jangan Diabaikan
Persoalan kelangkaan BBM subsidi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah daerah, DPRD, Pertamina, aparat penegak hukum, serta pihak terkait lainnya perlu duduk bersama dan mencari solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat.


Apalagi jika terdapat dugaan penyimpangan dalam distribusi BBM subsidi, persoalan tersebut harus ditelusuri secara serius berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku.
Lewat goresan pena dan tinta hitam, suara masyarakat akan terus disuarakan.
Sebab ketika rakyat sudah kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, diam bukanlah solusi.


Kini masyarakat menunggu, apakah Pemda dan DPRD Majene benar-benar akan turun tangan, atau rakyat kembali dibiarkan berjuang sendiri di tengah antrean BBM yang tak kunjung berakhir.

BERITA TANPA BATAS

  • ‎Pemerintah Desa Lombang Timur Bangun Rabat Beton 236 Meter di Tengah Pengurangan Dana Desa

    Majene — Pemerintah Desa Lombang Timur, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur desa. Senin, (25-5-2026) Di tengah pengurangan anggaran Dana Desa, Pemerintah Desa Lombang Timur tetap merealisasikan pembangunan rabat beton sepanjang 236 meter dengan lebar 3 meter sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. ‎Pembangunan…

  • Komisi III DPRD Majene Semprot Keras Pelayanan Puskesmas Sendana I

    Majene, Senin (25/5/2026) — Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Majene, Sudirman, menyampaikan keprihatinan dan kritik keras terhadap kondisi pelayanan kesehatan di Puskesmas Sendana I dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Dinas Kesehatan dan seluruh Kepala Puskesmas se-Kabupaten Majene. Dalam forum tersebut, Sudirman menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu segera mendapat perhatian dan pembenahan agar…

  • Panen Udang BUMDes Desa Sulai Jadi Momentum Evaluasi Dan Penguatan Ekonomi Desa

    Pemerintah Desa bersama pengurus BUMDes Desa Sulai terus melakukan evaluasi dan penguatan terhadap program usaha yang telah berjalan selama musim panen terakhir. ‎Berbagai dinamika dan tantangan di lapangan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pengelolaan usaha desa agar semakin berkembang dan berkelanjutan. ‎Pada Minggu sore, 24 Mei 2026, BUMDes Desa Sulai melaksanakan panen …

  • Berteduh Saat Hujan, Perempuan di Tapalang Diduga Jadi Korban Perampasan Tas Berisi Uang Rp7 Juta

    Berteduh Saat Hujan, Perempuan di Tapalang Diduga Jadi Korban Perampasan Tas Berisi Uang Rp7 Juta

    Aksi perampasan kembali meresahkan warga. Kali ini, seorang perempuan yang akrab disapa Mama I’mang diduga menjadi korban perampasan tas di Karanamu, Kelurahan Kasambang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.30 WITA, saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Kamis (29/10/2026). Berdasarkan kronologi yang dihimpun, dua pria awalnya berteduh di salah…


  • DPRD Majene Bantah 3.000 PPPK Paruh Waktu Tak Dapat Gaji.Begini Penjelasannya

    DPRD Majene Bantah 3.000 PPPK Paruh Waktu Tak Dapat Gaji.Begini Penjelasannya

    DPRD Komisi II DPRD Kabupaten Majene, Napirman, membantah informasi yang menyebut sekitar 3.000 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Majene tidak terakomodasi dalam penggajian. Rabu 28/10/2026 Saat di konfirmasi Menurut Napirman, dari total 5.749 PPPK yang terdaftar dalam database, sekitar 2.000 lebih telah dimasukkan dalam pembahasan anggaran perubahan. Sementara itu, sekitar…


  • ‎‎BBM Kembali Stabil, Pemerintah Kabupaten Majene Patut Diapresiasi: Antrean Panjang Berangsur Hilang

    ‎‎BBM Kembali Stabil, Pemerintah Kabupaten Majene Patut Diapresiasi: Antrean Panjang Berangsur Hilang

    MAJENE — Setelah berbulan-bulan diwarnai kelangkaan BBM bersubsidi dan antrean panjang di sejumlah SPBU, kondisi pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, kini mulai kembali normal. Kondisi ini patut diapresiasi sebagai langkah positif dalam upaya mengatasi persoalan yang sempat meresahkan masyarakat. ‎Pada September hingga Oktober 2026, antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter…



Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *