Gaji PPPK Mulai Masuk Rekening, Nasib Ribuan PPPK Paruh Waktu di Majene Masih Menunggu Kepastian

MAJENE – Aksi unjuk rasa mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terkait tambahan anggaran daerah dan nasib Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berujung pada dialog bersama pimpinan dan anggota DPRD.

Subhan sebagai Korlap aksi. Usai menyampaikan orasi, massa aksi melakukan dialog dengan Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD, serta sejumlah anggota DPRD lainnya. Diskusi berlangsung alot dan sempat diwarnai ketegangan sebelum menghasilkan sejumlah kesepakatan yang kini ditunggu realisasinya.

Salah satu tuntutan utama mahasiswa menyangkut penggajian PPPK penuh waktu dan paruh waktu, yang hingga kini menjadi perhatian para tenaga honorer dan masyarakat.

Dalam dialog tersebut, Ma’ruf menjelaskan bahwa proses administrasi penggajian PPPK penuh waktu telah selesai. Pembayaran disebut tinggal menunggu penyaluran dana secara bertahap ke rekening masing-masing penerima.

“Penggajian PPPK mulai hari ini sudah mulai masuk ke rekening. Kemungkinan ada yang sedikit terlambat karena persoalan di bank yang sudah tutup,” ujar Ma’ruf.

Sementara itu, persoalan PPPK paruh waktu menjadi sorotan lebih serius. Jumlahnya disebut mencapai lebih dari 2.000 orang, tetapi penggajiannya belum dapat dipastikan akan mencakup seluruh tenaga yang bersangkutan.

Menurut penjelasan dalam dialog, penggajian diprioritaskan bagi mereka yang sebelumnya telah memiliki riwayat honor dan datanya tidak lolos dalam seleksi atau penetapan PPPK penuh waktu. Adapun tenaga yang tidak memiliki dasar administrasi atau riwayat honor sebagaimana dipersyaratkan disebut belum terakomodasi dalam skema pembayaran tersebut.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai nasib tenaga PPPK paruh waktu yang belum masuk dalam daftar penerima penghasilan. Mahasiswa menilai persoalan tersebut membutuhkan kejelasan data, mekanisme penggajian, serta kepastian penganggaran agar tidak menimbulkan ketidakadilan di antara para tenaga yang telah mengabdi.

Sebagai tindak lanjut, pihak yang terlibat dalam dialog menyepakati penyusunan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Selain itu, pembahasan penganggaran untuk PPPK paruh waktu akan ditindaklanjuti dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2027.

Dalam kesepakatan yang disampaikan saat dialog, seluruh PPPK paruh waktu ditargetkan dapat dimasukkan dalam penganggaran pada 2027. Namun, komitmen tersebut masih harus dikawal hingga tertuang dalam dokumen anggaran dan benar-benar direalisasikan.

Selasa, Data Penggajian PPPK Akan Dibuka

Sebagai langkah konkret, pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Selasa mendatang di DPRD. Dalam pertemuan itu, mahasiswa akan meminta data dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) mengenai PPPK penuh waktu dan paruh waktu.

Data tersebut diharapkan dapat menjelaskan siapa saja yang telah menerima gaji, siapa yang belum dibayarkan, serta apa yang menjadi dasar penentuan penerima penghasilan.

“Kami akan meminta data BKPSDM terkait PNS, PPPK penuh waktu, dan paruh waktu. Kami juga akan meminta data siapa saja yang menerima gaji dan siapa yang belum,” ujar Ma’ruf.

Keterbukaan data dinilai penting agar persoalan penggajian tidak berhenti pada penjelasan dalam forum dialog, tetapi dapat diperiksa berdasarkan dokumen administrasi dan penganggaran yang jelas.

Koordinator lapangan aksi, Subhan, memimpin mahasiswa dalam menyampaikan tuntutan tersebut sebagai bentuk desakan agar pemerintah daerah dan DPRD memberikan kepastian terhadap hak-hak tenaga PPPK.

Selain persoalan penggajian, mahasiswa juga menyoroti penggunaan tambahan anggaran daerah yang berkaitan dengan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), sektor pendidikan, kesehatan, serta penyelesaian utang pemerintah daerah.

PMII Komisariat Unsulbar menegaskan bahwa hasil dialog harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata. Sebab, bagi tenaga PPPK, kepastian penghasilan bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan penghargaan atas pengabdian mereka.

Kini, yang ditunggu bukan sekadar janji di meja dialog. Publik menanti keterbukaan data, kejelasan penganggaran, dan realisasi pembayaran agar tidak ada tenaga yang terus terkatung-katung tanpa kepastian.

BERITA TANPA BATAS

  • Pemdes Sulai Gelar Musyawarah Perubahan APBDes 2026, Anggaran Siltap Dialihkan‎

    Pemerintah Desa Sulai, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, menggelar musyawarah perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut dihadiri pendamping desa, para kepala dusun, serta anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Jumat, (30/10/2026). ‎‎Dalam musyawarah tersebut, salah satu pembahasan utama adalah pergeseran anggaran penghasilan tetap (siltap) yang sebelumnya dialokasikan untuk…

  • Berteduh Saat Hujan, Perempuan di Tapalang Diduga Jadi Korban Perampasan Tas Berisi Uang Rp7 Juta

    Aksi perampasan kembali meresahkan warga. Kali ini, seorang perempuan yang akrab disapa Mama I’mang diduga menjadi korban perampasan tas di Karanamu, Kelurahan Kasambang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.30 WITA, saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Kamis (29/10/2026). Berdasarkan kronologi yang dihimpun, dua pria awalnya berteduh di salah…

  • DPRD Majene Bantah 3.000 PPPK Paruh Waktu Tak Dapat Gaji.Begini Penjelasannya

    DPRD Komisi II DPRD Kabupaten Majene, Napirman, membantah informasi yang menyebut sekitar 3.000 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Majene tidak terakomodasi dalam penggajian. Rabu 28/10/2026 Saat di konfirmasi Menurut Napirman, dari total 5.749 PPPK yang terdaftar dalam database, sekitar 2.000 lebih telah dimasukkan dalam pembahasan anggaran perubahan. Sementara itu, sekitar…


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *