Kecewa Berat, Kisah Pilu di Balik Penamatan SDN 11 Karema: Kuda Sudah Disewa, Ahmad Nafis Tak Jadi Ikut

‎Ahmad Nafis siswa berprestasi di SD Negeri 11 Karema Kec. Tamerodo Kabupaten Majene, dikabarkan mengalami kekecewaan mendalam usai pengumuman kelulusan dan penamatan sekolah. Senin, (15 juni/2026).

‎Menurut keterangan Keluarga, Ahmad Nafis disebut dikenal sebagai murid berprestasi yang sejak kelas III hingga kelas V secara konsisten meraih peringkat kedua di kelas. Tak hanya itu, ia juga kerap dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan dan perlombaan.

Ahmad Nafis, Juara III lomba literasi tingkat kecamatan

‎Namun kondisi berbeda terjadi saat memasuki kelas VI. Pada akhir masa pendidikan dasar, tepat setelah rangkaian kegiatan perkemahan dan menjelang penamatan massal, posisi Nafis disebut-sebut justru merosot hingga berada di deretan belakang peringkat kelas.

‎Perubahan drastis tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan keluarga dan sejumlah warga. Muncul dugaan adanya ketidaktransparanan dalam proses penilaian, terlebih karena siswa yang memperoleh peringkat terbaik disebut memiliki hubungan keluarga dengan salah satu pihak di lingkungan sekolah.

‎Kekecewaan yang dirasakan Hafis dan keluarganya begitu mendalam. Bahkan, ia dikabarkan memilih tidak mengikuti pawai kuda dan rangkaian kegiatan penamatan massal yang menjadi puncak perpisahan siswa kelas VI.

Penamatan massal pada minggu 14 Juni diketahui turut dihadiri oleh Bupati Majene dan dirangkaikan dengan berbagai kegiatan budaya, termasuk pawai berkuda atau Sayyang Pattuqduq, tradisi khas Mandar yang menjadi simbol penghormatan dan kebanggaan bagi anak-anak yang merayakan pencapaian mereka.

‎Lebih miris lagi, akibat rasa kecewa yang dialaminya, Napis disebut mengikuti epndfattan penamatan di sekolah lain yang berada di wilayah Poniang yg akan diselenggarakan pada tgl 20 Juni .

‎Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menyangkut dunia pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi prinsip keadilan, objektivitas, dan transparansi dalam memberikan penghargaan kepada peserta didik.

‎Sejumlah pihak berharap adanya penjelasan terbuka dari pihak sekolah agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan serta untuk menjaga kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak sekolah melalui sambungan telepon belum tersambung  dan masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan resmi dan berimbang terkait informasi yang berkembang di tengah masyarakat.***

PEMBERITAAN TANPA BATAS


‎

  • Benda diduga bius ikan ditemukan di Pantai Rawa-Rawang, Desa Bonde-Bonde perkuat aturan antisipasi illegal fishing

    MAJENE — Praktik penangkapan ikan yang diduga menggunakan bahan pembius kembali menjadi perhatian setelah sebuah benda berisi cairan ditemukan oleh nelayan di sekitar Pantai Rawa-Rawang, Desa Bonde-Bonde, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Benda tersebut ditemukan oleh nelayan penangkap cumi, pada malam Senin, 18 Oktober. Temuan ini menimbulkan dugaan adanya alat atau bahan yang…

  • ‎Pertanyakan Tuduhan Almarhum Suami Gelapkan Uang Kampanye Hj Mahdalena, Jenk Fitry Dipolisikan

    Kota Bima.- Nurfitryaningsi alias Jenk Fitry dan Mega Kurniawati, jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Raba Bima terkait kasus ungkapan kata-kata tidak senonoh terhadap Wardan Boftem.‎‎Berdasarkan dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kasus itu bermula dari akun Facebook bernama Denalex Atabranta Denalex memposting kekecewaan terhadap kinerja anggota DPR RI Hj. Mahdalena, MM…

  • ‎Damkar, Satpol PP, TNI, dan Warga Bersatu Jinakkan Karhutla, Api Mendekati Sekolah!

    MAJENE – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sulai, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Kamis (15/10/2026), menghanguskan sekitar 4–5 hektare lahan. Kobaran api yang muncul sekitar pukul 13.00 WITA itu bergerak dari arah barat ke timur hingga mendekati bangunan sekolah. ‎Situasi tersebut memicu aksi cepat petugas pemadam kebakaran (Damkar), Satpol PP, personel TNI,…

  • Majene Bersiap Hadapi Ancaman Wabah, Karantina Kesehatan Mulai Dirintis, Vaksin Internasional Dibidik

    Majene Bersiap Hadapi Ancaman Wabah, Karantina Kesehatan Mulai Dirintis, Vaksin Internasional Dibidik

    MAJENE, — Pemerintah Kabupaten Majene mulai merintis layanan karantina kesehatan dan mempersiapkan pelayanan vaksinasi internasional. Langkah ini menjadi upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi ancaman penyakit menular sekaligus mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat. ‎Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, persiapan tersebut dimatangkan lewat kunjungan kaji tiru ke Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Sulawesi Selatan di…


  • Dugaan Setoran Rp540 Juta di Majene, Nama Bupati dan Sekda Disebut dalam Pengakuan Ilham

    Dugaan Setoran Rp540 Juta di Majene, Nama Bupati dan Sekda Disebut dalam Pengakuan Ilham

    MAJENE — Dugaan setoran dana sebesar Rp540 juta yang dikaitkan dengan kegiatan revitalisasi sekolah di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, memunculkan pertanyaan mengenai tujuan pembayaran, pihak-pihak yang terkait, serta pertanggungjawaban dana tersebut. Jumat 23 (Oktober 2026) ‎‎Informasi ini berasal dari keterangan Ilham, yang mengaku mengetahui dan terlibat dalam pengurusan penyetoran dana tersebut. Menurut pengakuannya, uang sebesar…


  • GRH Sulsel Dukung Pemberantasan Narkoba, Desak Bandar Besar Dimiskinkan dan Jaringannya Dibongkar

    GRH Sulsel Dukung Pemberantasan Narkoba, Desak Bandar Besar Dimiskinkan dan Jaringannya Dibongkar

    MAKASSAR — Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Revolusi Hukum (DPD GRH) Sulawesi Selatan, M. Ishadul Islami Akbar, S.H., menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap upaya pemberantasan peredaran gelap narkotika di Indonesia. Ia menegaskan, perang terhadap narkoba harus dilakukan secara menyeluruh, tegas, dan tanpa pandang bulu, termasuk dengan membongkar jaringan bandar besar serta menelusuri aset yang…



Comments

One response to “Kecewa Berat, Kisah Pilu di Balik Penamatan SDN 11 Karema: Kuda Sudah Disewa, Ahmad Nafis Tak Jadi Ikut”

  1. […] MAJENE, Porossulbar.id – Seorang siswa berprestasi SD Negeri 11 Karema, Kecamatan Tammerodo, Kabupaten Majene, Ahmad Nafis, dikabarkan mengalami kekecewaan mendalam usai pengumuman kelulusan dan penamatan sekolah. Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat setelah muncul pertanyaan terkait proses penilaian yang dinilai berubah secara drastis pada akhir masa pendidikan dasar.‎‎Berdasarkan keterangan keluarga, Ahmad Nafis selama ini dikenal sebagai salah satu siswa yang memiliki prestasi akademik yang konsisten. Sejak duduk di bangku kelas III hingga kelas V, ia disebut selalu berada di peringkat kedua kelas dan beberapa kali dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan maupun perlombaan.‎‎”Sejak kelas III sampai kelas V, Nafis selalu berada di peringkat kedua dan sering membawa nama sekolah dalam berbagai kegiatan. Karena itu kami sangat terkejut melihat hasil penilaian di kelas VI,” ujar salah seorang anggota keluarga.‎‎Menurut keluarga, perubahan tersebut terjadi setelah rangkaian kegiatan perkemahan dan menjelang penamatan massal siswa kelas VI. Ahmad Nafis disebut mengalami penurunan peringkat yang sangat signifikan hingga berada di deretan belakang.‎‎”Kami tidak mempersoalkan siapa yang menjadi juara kelas, tetapi kami ingin mengetahui dasar penilaiannya. Perubahan yang sangat drastis tentu menimbulkan pertanyaan bagi keluarga,” lanjutnya.‎‎Kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan keluarga Ahmad Nafis dan sejumlah warga.‎‎Muncul dugaan adanya ketidaktransparanan dalam proses penilaian, terlebih karena siswa yang memperoleh peringkat terbaik disebut memiliki hubungan keluarga dengan salah satu pihak di lingkungan sekolah. Dugaan tersebut hingga kini belum memperoleh tanggapan resmi dari pihak sekolah.‎‎”Kami berharap semua proses penilaian dapat dijelaskan secara terbuka agar tidak muncul prasangka dan masyarakat tetap percaya terhadap dunia pendidikan,” kata pihak keluarga Nafis.‎‎Rasa kecewa yang dialami Ahmad Nafis disebut begitu mendalam hingga ia memilih tidak mengikuti pawai kuda maupun rangkaian penamatan massal yang menjadi puncak acara perpisahan siswa kelas VI.‎‎Padahal, penamatan massal tersebut diketahui turut dihadiri oleh Bupati Majene dan dirangkaikan dengan berbagai kegiatan budaya, termasuk tradisi Sayyang Pattuqduq atau pawai berkuda yang menjadi simbol penghormatan dan kebanggaan bagi anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.‎‎”Anak kami sangat sedih. Ia memilih tidak ikut pawai dan seluruh rangkaian penamatan karena merasa kecewa dengan hasil yang diterimanya,” lanjutnya.‎‎Lebih lanjut, keluarga menyebut Ahmad Nafis bahkan telah mendaftarkan diri untuk mengikuti penamatan di sekolah lain yang berada di wilayah Poniang yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Juni mendatang.‎‎”Kami hanya ingin memberikan semangat kepada anak agar tetap percaya diri dan tetap merasa dihargai atas usaha serta prestasi yang telah diraihnya selama ini,” tambahnya.‎‎Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menyangkut dunia pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi prinsip keadilan, objektivitas, akuntabilitas, dan transparansi dalam memberikan penghargaan kepada peserta didik.‎‎Sejumlah masyarakat berharap pihak SD Negeri 11 Karema dapat memberikan penjelasan resmi mengenai mekanisme penilaian yang digunakan sehingga tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan dan tetap menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan.‎‎Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak sekolah melalui sambungan telepon belum berhasil dilakukan karena nomor yang dihubungi belum tersambung. Wartawan masih terus berupaya memperoleh klarifikasi resmi dari pihak sekolah guna menghadirkan informasi yang lengkap, berimbang, dan sesuai dengan kaidah jurnalistik.‎‎Berita ini dikutip dari salah satu media lokal https://epnmediaonline.com/2026/06/15/kecewa-berat-kisah-pilu-di-balik-penamatan-sdn-11-karema-kuda-… […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *